Sabtu, 13 Februari 2016

KESABARAN PENANTIAN



By : mirwan aziz ramadhan

 Sore itu sangat cerah dengan warna langit yang begitu indah, merah saga di ikuti oleh angin yang sepoi – sepoi menyejukan badan ini, matahari mulai lelah untuk bersinar pada hari itu, ia mulai menghilang sedikit demi sedikit dari indahnya dunia, matahari yang cerah di pagi sampai sore hari sekarang diganti oleh terangnya rembulan dan bintang – bintang yang bertaburan menjadikan kesan yang indah pada sore menjelang malam itu.
Masih teringat pertamakali Agung melihat dan mengenalnya, waktu itu Agung dan teman asrama masih ada malam keakraban maklumlah mahasiswa baru apalagi dari luar daerah semua, ketika itu ada pertunjukan – pertunjukan yang di adakan oleh setiap regu, agung dan teman – temannya menampilkan sebuah pertunjukan yang sangat menghibur bagi para penonton yang mengikuti malam keakraban mahasiswa baru yang dari luar daerah atau mereka biasa menyebutnya mahasiswa rantau “HIMARA”, Agung dan teman satu regunya menampilkan tarian yang berjudul tarian planet, dengan tubuh bagian atas di tutupi oleh sarung dengan di ikat tali plastik dan disambungkan tali itu pada jaket atau baju yang berlengan panjang, mulailah mereka berlenggak lenggok menari diatas panggung yang sudah di siapkan leh para seniornya, tarian itu membuat gelak tawa yang ceria pada malam itu.
Setelah penampilannya selesai Agung dan teman – temannya turun dari panggung satu persatu, mereka kemudian menyaksikan penampilan dari kelompok – kelompok lainnya, satu persatu kelompok itu menampilkan penampilannya masing – masing dengan penampilan yang tak kalah hebatnya ada yang menampilkan perkusi dengan menggunakan gelas dan meja sebagai alatnya, ada yang flashs mob, menyanyi solo, menampilkan band ” menyanyi bergroup” , dan yang paling menarik perhatian adalah ketika salah satu kelompok menampilkan penampilan drama tentang negri palestina, Agung yang duduk di depan panggung persis di himpit oleh teman – temannya ketika itu lampu di padamkan, dengan keadaan gelap gulita mereka menyaksikan penampilan itu dengan serius, dengan jalan cerita yang mengharukan dari drama tersebut mereka kemudian bertepuk tangan untuk mengapresiasi drama tersebut, dengan drama tersebut kemudian diakhiri dengan sebuah puisi yang sangat menyentuh. 
Seorang wanita yang menggunakan baju putih membacakan puisi di atas panggung dengan penghayatan yang sangat bagus, setelah usai pertunjukannya di umumkan pemenangnya dengan berbagai kategori yang tak cukup masuk akal, diantaranya pemenang dengan penampilan tak tau malu, terbaik, dan kekompakan. Dengan menempatkan Agung dan kawan – kawan menempati posisi pertama sebagai kelmpok tak tau malu, dan penampilan terbaik diperoleh oleh kelompok drama Palestina.
Agung kemudian menghampiri seorang akhwat yang membacakan puisi dengan sengat bagus dengan penghayatan yang luar biasa.
“wah... keren banget kamu tadi...” puji Agung kepadanya
“terimakasih, atas pujiannya” sambil tersenyum yang membuat Agung menjadi salah tingkah, “penampilan kamu juga lucu banget... sampe ketawa – ketawa ngak nahan” puji akhwat itu untuk Agung  “hehehe... jadi malu” jawab Agung dengan muka yang sedikit merah, “oh ya tadi gimana cara penghayatan puisinya, ko sampai bagus banget gitu... “ sambungnya  “hehe, ya, itu saya membayangkan betapa menyedihkannya dan betapa kerasnya perjuangan mereka rakyat palestina, yang mengalami itu, ya seperti itulah,...” menjelaskan akhwat itu sambil senyum manis dengan lesung pipinya yang menambah kecantikan dari raut wajah dan senyumnya.
Dari percakapan – percakapan itu akhirnya Agung mengetahui nama dari akhwat itu, namanya adalah fatimah azahra binti abdul aziz, teman – temannya biasa memanggil dengan penggilan Zahra, Zahra juga seorang santri pas Sma dulu, ia sekolah di jakarta sebagai seorang santri tak heran jika Zahra sekarang sudah menghafalkan kitab suci Al – Quran sudah hampir 30 juz. Terbesit di fikirannya ketika mengetahui ia adalah hafidzoh merasa minder ketika mau berbicara atau sekedar ngobrl – ngobrol ringan. Namun setelah ngobrol ringan Agung  semakin kenal dengannya .
Zahra, tersenyum kepada ku dengan senyuman yang sangat anggun dengan lesung pipit yang menabah manis raut wajahnya, dengan matamya yang kecil mungil semakin menambah ayu parasnya, Agungpun memandangi Zahra dengan rasa yang berdebar dan dengan refleks dia juga tersenyum kepada Zahra dengan pipi sedikit merah karena malu ketika Zahra mengetahui dia melihatnya dengan terpana.
“assalamualaikum... “ sapa Zahra kepada agung yang masih tersipu malu. “wa’alaikumussalam... eh zahra, mau kemana?” jawab Agung sambil basa basi, “mau kekampus,.. duluan ya”  jawab zahra sambil pergi, dengan menggunakan sepeda motor matik warna hijau berboncengan dengan teman akhwatnya.
Setelah beberapa hari bertemu, bertegur sapa Agung semakin nyaman jika bertemu dengan Zahra, seperti ada kesejukan tersendiri jika sedang berdekatan dengannya, ada suatu hal yang membuatnya nyaman jika sedang dekat dengannya yakni, ketulusan hatinya kelembutan sikapnya. Keramahannya selalu mengiringi hati ini seperti dibawa ketempat yang begitu indah di atas rerumputan yang di kelilingi oleh bunga – bunga yang bermekaran, yang membuat ketenangan tersendiri.
“Aku sayang kamu...” dalam hatinya ketika sedang berdekatan dengan Zahra, kata itu yang ingin di ucapkan, namun rasa yang minder dan kurang percaya diri membuat Agung tak berani mengungkapkannya. Ditambah lagi ia berfikir dalam hatinya berkata “Apakah pantas anak seperti saya mencintai Zahra anak yang sholehah, hampir hafal 30 juz, dibandingkan saya yang baca Qur’an pun masih belum lancar?”
Ia  bersyukur telah mendapat benyak pelajaran yang dapat di ambil dari pertemuanku dengan Zahra yang sampai sekarang masih menjadi sahabatnya, mengenal seorang akhwat yang baik, sopan dan membuatnya tenang jika berdekatan dengannya. Mengenal perempuan yang dapat memluluhkan hatinya, perempuan yang kini terukir rapih di relung – relung hatinya. Walaupun sampai sekarang Zahra wanita yang di cintainya tidak mengetahui apa yang dirasakannya. Namun ia tetap berharap suatu saat nanti Zahra bisa mengetahui apa yang di rasakannya selama ini.
Agung tak berharap bisa menjalin hubungan dengan zahra sekarang, namun ia berharap suatu saat nanti di pertemukan kembali pada saat yang tepat untuk menjalin hubungan yang lebih serius, dalam sebuah tali ikatan pernikahaan.  Ya ia menganggap cinta yang sebenarnya bukanlah di lalui lewat sebuah pacaran namun cinta sebenarnya lewat sebuah ketulusan dan ikatan pernikahan.

“”HAKIKAT CINTA ADALAH MELEPASKAN, SEMAKIN SEJATI IA, SEMAKIN TULUS PULA KAU UNTUK MELEPASKANNYA. PERCAYALAH JIKA ITU MEMANG CINTA SEJATIMU, TAK PEDULI ARAL MELINTANG,SEBERAPA JAUH ENGKAU MELANGKAH MENJAUHINYA PASTI!!! IA AKAN KEMBALI PADAMU”” I


Tidak ada komentar:

Posting Komentar