By : mirwan
aziz ramadhan
Sore itu sangat cerah
dengan warna langit yang begitu indah, merah saga di ikuti oleh angin yang
sepoi – sepoi menyejukan badan ini, matahari mulai lelah untuk bersinar pada
hari itu, ia mulai menghilang sedikit demi sedikit dari indahnya dunia,
matahari yang cerah di pagi sampai sore hari sekarang diganti oleh terangnya rembulan
dan bintang – bintang yang bertaburan menjadikan kesan yang indah pada sore
menjelang malam itu.
Masih teringat pertamakali Agung melihat dan mengenalnya,
waktu itu Agung dan teman asrama masih ada malam keakraban maklumlah mahasiswa
baru apalagi dari luar daerah semua, ketika itu ada pertunjukan – pertunjukan yang
di adakan oleh setiap regu, agung dan teman – temannya menampilkan sebuah
pertunjukan yang sangat menghibur bagi para penonton yang mengikuti malam
keakraban mahasiswa baru yang dari luar daerah atau mereka biasa menyebutnya
mahasiswa rantau “HIMARA”, Agung dan teman satu regunya menampilkan tarian yang
berjudul tarian planet, dengan tubuh bagian atas di tutupi oleh sarung dengan
di ikat tali plastik dan disambungkan tali itu pada jaket atau baju yang
berlengan panjang, mulailah mereka berlenggak lenggok menari diatas panggung
yang sudah di siapkan leh para seniornya, tarian itu membuat gelak tawa yang
ceria pada malam itu.
Setelah penampilannya selesai Agung dan teman – temannya
turun dari panggung satu persatu, mereka kemudian menyaksikan penampilan dari
kelompok – kelompok lainnya, satu persatu kelompok itu menampilkan
penampilannya masing – masing dengan penampilan yang tak kalah hebatnya ada
yang menampilkan perkusi dengan menggunakan gelas dan meja sebagai alatnya, ada
yang flashs mob, menyanyi solo, menampilkan band ” menyanyi bergroup” , dan
yang paling menarik perhatian adalah ketika salah satu kelompok menampilkan
penampilan drama tentang negri palestina, Agung yang duduk di depan panggung
persis di himpit oleh teman – temannya ketika itu lampu di padamkan, dengan
keadaan gelap gulita mereka menyaksikan penampilan itu dengan serius, dengan
jalan cerita yang mengharukan dari drama tersebut mereka kemudian bertepuk
tangan untuk mengapresiasi drama tersebut, dengan drama tersebut kemudian
diakhiri dengan sebuah puisi yang sangat menyentuh.
Seorang wanita yang menggunakan baju putih membacakan puisi
di atas panggung dengan penghayatan yang sangat bagus, setelah usai
pertunjukannya di umumkan pemenangnya dengan berbagai kategori yang tak cukup
masuk akal, diantaranya pemenang dengan penampilan tak tau malu, terbaik, dan
kekompakan. Dengan menempatkan Agung dan kawan – kawan menempati posisi pertama
sebagai kelmpok tak tau malu, dan penampilan terbaik diperoleh oleh kelompok
drama Palestina.
Agung kemudian menghampiri seorang akhwat yang membacakan
puisi dengan sengat bagus dengan penghayatan yang luar biasa.
“wah... keren banget kamu tadi...” puji Agung kepadanya
“terimakasih, atas pujiannya” sambil tersenyum yang membuat
Agung menjadi salah tingkah, “penampilan kamu juga lucu banget... sampe ketawa
– ketawa ngak nahan” puji akhwat itu untuk Agung “hehehe... jadi malu” jawab Agung dengan muka
yang sedikit merah, “oh ya tadi gimana cara penghayatan puisinya, ko sampai
bagus banget gitu... “ sambungnya “hehe,
ya, itu saya membayangkan betapa menyedihkannya dan betapa kerasnya perjuangan
mereka rakyat palestina, yang mengalami itu, ya seperti itulah,...” menjelaskan
akhwat itu sambil senyum manis dengan lesung pipinya yang menambah kecantikan
dari raut wajah dan senyumnya.
Dari percakapan – percakapan itu akhirnya Agung mengetahui
nama dari akhwat itu, namanya adalah fatimah azahra binti abdul aziz, teman –
temannya biasa memanggil dengan penggilan Zahra, Zahra juga seorang santri pas
Sma dulu, ia sekolah di jakarta sebagai seorang santri tak heran jika Zahra
sekarang sudah menghafalkan kitab suci Al – Quran sudah hampir 30 juz. Terbesit
di fikirannya ketika mengetahui ia adalah hafidzoh merasa minder ketika mau
berbicara atau sekedar ngobrl – ngobrol ringan. Namun setelah ngobrol ringan
Agung semakin kenal dengannya .
Zahra, tersenyum kepada ku dengan senyuman yang sangat
anggun dengan lesung pipit yang menabah manis raut wajahnya, dengan matamya
yang kecil mungil semakin menambah ayu parasnya, Agungpun memandangi Zahra
dengan rasa yang berdebar dan dengan refleks dia juga tersenyum kepada Zahra
dengan pipi sedikit merah karena malu ketika Zahra mengetahui dia melihatnya
dengan terpana.
“assalamualaikum... “ sapa Zahra kepada agung yang masih
tersipu malu. “wa’alaikumussalam... eh zahra, mau kemana?” jawab Agung sambil
basa basi, “mau kekampus,.. duluan ya” jawab
zahra sambil pergi, dengan menggunakan sepeda motor matik warna hijau
berboncengan dengan teman akhwatnya.
Setelah beberapa hari bertemu, bertegur sapa Agung semakin
nyaman jika bertemu dengan Zahra, seperti ada kesejukan tersendiri jika sedang
berdekatan dengannya, ada suatu hal yang membuatnya nyaman jika sedang dekat
dengannya yakni, ketulusan hatinya kelembutan sikapnya. Keramahannya selalu mengiringi
hati ini seperti dibawa ketempat yang begitu indah di atas rerumputan yang di
kelilingi oleh bunga – bunga yang bermekaran, yang membuat ketenangan
tersendiri.
“Aku sayang kamu...” dalam hatinya ketika sedang berdekatan
dengan Zahra, kata itu yang ingin di ucapkan, namun rasa yang minder dan kurang
percaya diri membuat Agung tak berani mengungkapkannya. Ditambah lagi ia
berfikir dalam hatinya berkata “Apakah pantas anak seperti saya mencintai Zahra
anak yang sholehah, hampir hafal 30 juz, dibandingkan saya yang baca Qur’an pun
masih belum lancar?”
Ia bersyukur telah
mendapat benyak pelajaran yang dapat di ambil dari pertemuanku dengan Zahra
yang sampai sekarang masih menjadi sahabatnya, mengenal seorang akhwat yang
baik, sopan dan membuatnya tenang jika berdekatan dengannya. Mengenal perempuan
yang dapat memluluhkan hatinya, perempuan yang kini terukir rapih di relung –
relung hatinya. Walaupun sampai sekarang Zahra wanita yang di cintainya tidak
mengetahui apa yang dirasakannya. Namun ia tetap berharap suatu saat nanti
Zahra bisa mengetahui apa yang di rasakannya selama ini.
Agung tak berharap bisa menjalin hubungan dengan zahra
sekarang, namun ia berharap suatu saat nanti di pertemukan kembali pada saat
yang tepat untuk menjalin hubungan yang lebih serius, dalam sebuah tali ikatan
pernikahaan. Ya ia menganggap cinta yang
sebenarnya bukanlah di lalui lewat sebuah pacaran namun cinta sebenarnya lewat
sebuah ketulusan dan ikatan pernikahan.
“”HAKIKAT CINTA ADALAH MELEPASKAN, SEMAKIN SEJATI IA, SEMAKIN TULUS
PULA KAU UNTUK MELEPASKANNYA. PERCAYALAH JIKA ITU MEMANG CINTA SEJATIMU, TAK
PEDULI ARAL MELINTANG,SEBERAPA JAUH ENGKAU MELANGKAH MENJAUHINYA PASTI!!! IA
AKAN KEMBALI PADAMU”” I

Tidak ada komentar:
Posting Komentar